this is the place where i poured stories of my life, my thoughts, my feelings also my ideas.
there's excitement, sadness, laugh, desperate, anger, happiness, and other kind emotions.
i just hope that we can learn something..

Tuesday, June 28, 2011

Sop Brenebon, Mami dan Doa Tengah Malam




Aroma sup Brenebon memenuhi seluruh rumah, menari2 di hidung saya, membangkitkan kenangan saya semasa tinggal bersama Mami. Wangi bawang, pala dan cengkeh yang hangat, membawa ingatan saya ke jaman ketika gadis, yang tidak suka membantu Mami memasak, tapi giliran makan tentu saja tidak mau tertinggal. 

Mami -pastinya- berharap, saya sebagai anak perempuan satu-satunya bakal mewarisi tangan dinginnya mengolah bahan makanan menjadi hidangan lezat untuk keluarga dan orang-orang tersayang. Namun apa daya, perjalanan hidup sedikit banyak membuat saya "sempat" jauh dari dapur.

Sewaktu kecil, saya sering menemani Mami memasak di dapur. Biasanya Mami memberikan sisa sayuran yang sudah tidak dipakai, untuk saya pakai bermain masak-masakan menggunakan kompor-panci-wajan plastik milik saya. Tapi hanya sebatas itu, lama kelamaan saya mulai bosan dengan kegiatan dapur dan ajakan Mami untuk main masak-masakan sering saya tolak. Makin besar, saya makin sering bermain di luar rumah, kebanyakan bersama kakak laki-laki saya dan teman-temannya asyik di sawah, ladang tebu, menangkap ikan di sungai, bermain di rumah pohon, hingga akhirnya saya benar-benar "buta" urusan dapur.

Saya ingat betul, perkenalan saya dengan bahan makanan dan alat masak terjadi diluar kemauan saya, tepatnya dorongan perut lapar amat sangat. Waktu itu, saya berusia sekitar 10 tahunan, kami bermukim di daerah Tanjung Priuk, di sebuah rumah bertingkat di Jalan Gembira. Papi berprofesi sebagai anggota TNI, sedangkan Mami secara otomatis menjadi ibu Persit (Persatuan Istri Prajurit) yang kadangkala sibuk dengan agenda organisasinya itu. Suatu hari, Papi seperti biasa bekerja dari pagi hingga petang, sedangkan Mami pergi ke acara Persit membawa adik laki-laki saya yang masih kecil. Sepulang sekolah, saya menjalani aktivitas seperti biasa, makan siang (dengan hidangan yang disiapkan Mami sebelum pergi), mengerjakan pekerjaan rumah, tidur siang sebentar, mandi sore, menunggu orangtua pulang. Namun, senja merayap dan belum ada tanda-tanda Papi Mami pulang ke rumah. Kakak saya? Entah dimana saya lupa keberadaannya waktu itu, yang pasti saya sendirian di rumah. 

Sekitar pukul 6.15 langit sudah gelap, perut saya mulai bersuara menyampaikan aspirasinya. LAPAR! Waktunya makan malam. Nah lo... Biasanya Mami sudah sibuk memasak hidangan santap malam sejak pukul 5 sore dan kami makan bersama-sama sekitar pukul 7 setelah semua anggota keluarga berkumpul (maksudnya, Papi sudah pulang dari kantor).  Cacing-cacing dalam perut saya mulai heboh, mendorong saya untuk masuk dapur. Saya pelajari isi dapur rumah kami. Ada wadah penyimpan beras bermerek Cosmos, dan ada penanak nasi yang saya lupa mereknya. Waktu itu, belum ada Magic Jar yang bisa menanak sekaligus menghangatkan nasi hingga berjam-jam sesudahnya. 

Saya mengambil sedikit beras, sekitar 2 cangkir, tercium aroma khas (karung?) dari beras tersebut, lalu saya mulai mencucinya. Terlihat airnya menjadi keruh, jadi saya tiriskan, dan saya baui lagi ternyata masih ada baunya. Saya cuci lagi beras tersebut, namun menurut saya masih ada baunya, hingga akhirnya saya melirik ke wadah sabun cuci dan mengambil secuil sabun itu dan mencuci beras itu dengan sabun. Oh tidaaaak!!! Wadah beras langsung dipenuhi busa sabun dan tercium aroma jeruk nipis. "Waduh, kalau makan sabun, kita bisa mati nih," pikir saya. Akhirnya saya cuci-bilas-cuci-bilas beras tersebut hingga airnya benar-benar bening dan tak ada bau apapun. Mengingat kembali kejadian itu, tampaknya saya "mencari" bau nasi matang yang tentu saja tidak akan tercium saat beras belum dimasak.

Sesudahnya, saya menakar air, kira-kira saja dengan harapan nasinya sempurna seperti buatan Mami. Lalu saya lap wadah penanak nasi, baru saya masukkan ke alatnya, tekan tombolnya dan menunggu dengan perasaan tak sabar. Tiga menit berlalu, buat anak seumuran saya waktu itu, adalah penantian yang lama. Dan saya (waktu itu) yakin bahwa menanak nasi butuh waktu cukup lama. Akhirnya saya berpindah ke ruang keluarga dan menonton acara televisi untuk membunuh waktu dan mengalihkan rasa lapar. 

Tercium aroma nasi, ada embel-embel hangusnya. Saya periksa penanak nasi, wah ternyata nasinya gosong di bagian bawah. Untungnya yang bagian atas masih bisa di makan dan rasanya baik-baik saja walaupun ada aroma hangusnya. Saya pindahkan nasi yang bisa dimakan ke ceting nasi, lalu mencari-cari lauk teman nasi. Biasanya Mami punya  persediaan Sambal Teri Kacang, Kering Tempe, Kering Kentang, atau Sambal Cakalang Fufu atau Sambal Roa, atau Abon Sapi yang sering disebut lauk darurat. Tapi waktu itu, yang ada hanyalah dendeng sapi, yang kalau mau disantap harus digoreng dulu. Saya punya pengalaman buruk dengan korek api jadi saya tidak berani menyalakan korek untuk memantik api kompor gas kami. Wah, nggak seru ini kalau santap malamnya MUTIH, wong lagi nggak mencari kesaktian kok..

Tiba tiba terdengar "Te! Sateeeeeee! Teeee! Sateeeeeeee!" Eeeeh si Mas Sate Madura langganan sedang melintas depan rumah. Boleh juga nih jadi lauk, satenya lho, bukan si Masnya. Tapi, kalau mau beli sate saya nggak punya uang sepeserpun. Gimana dong? Ndilalah, tetangga sebelah rumah  manggil si Mas Sate. Sibuklah si Mas mengerjakan pesanan sate tetangga sebelah. Asap sate menguar, saya mengambil piring nasi, siap duduk di teras rumah. Menu malam ini : Nasi putih Lauk asap sate. 

Biasanya saya sebal kalau kena asap sate apalagi kalau nggak makan satenya, kali ini saya menikmati benar asap satenya. Baru satu suapan nasi masuk mulut saya, si Mas sate menyapa, "Dik, ndak pesan satenya?" Saya jawab, "Nggak punya uang, Bapak Ibu belum pulang kantor, Mas. Kalau sambel kacangnya gratis, saya mau dong", kata saya -yang waktu itu belum mendownload rasa malu-. Si Mas Sate balik badan, sibuk sendiri sama pesanannya. 

Oooh, Masnya nggak mau ngasi sambel kacang toh, pikir saya. Ya sudah, No sambel kacang, No cry, begitu bathin saya. Saat saya meneruskan makan nasi putih berlauk asap sate itu, tiba2 si Mas Sate mengetuk pagar dan mengangsurkan sepiring sate, lima tusuk dan saus kacangnya! YAY!!!! "Tapi saya nggak punya uang, kata Bapak Ibu nggak boleh anak kecil berhutang," kata saya polos. Si Mas Sate keukeuh mengangsurkan piring satenya, "Gratis, nggak usah bilang-bilang sama Bapak Ibu," katanya. "Bener nih? Enggak ah, takut," kata saya. Tapi si Mas Sate yang satenya emang enak itu benar-benar persuasif dan akhirnya 5 tusuk sate ayam itu menjadi lauk ternikmat yang pernah saya santap. Dan seperti yang terjadi di film-film, saat masalah teratasi, baru pihak yang berwenang pada datang... Ya, tak lama kemudian Papi Mami berikut kakak dan adik saya semua datang, dan karena dirumah tidak ada nasi maupun lauk, Mami memesankan sate untuk kami semua. Si Mas Sate senang karena dapat tambahan order.

Tragedi nasi itu dan ketidak mampuan saya untuk memasak lauk, tetap tidak mengusik saya untuk lebih sering ke dapur. Sewaktu SMP dan SMA, ada pelajaran PKK (Pendidikan Ketrampilan Keluarga), salah satunya memasak berkelompok dan menyiapkan jamuan untuk anggota kelompok dan guru.  Saya biasa memilih sebagai penyedia alat makan dan penata meja makan sementara teman-teman lain bergumul dengan bahan makanan. Menurut saya, pekerjaan saya mudah, hanya mengatur taplak meja kursi, menata piring, sendok, garpu, gelas, vas bunga, teko air, mangkuk saji dsb. Tangan dan badan tetap bersih, tidak akan tercium aroma bumbu, terutama bawang putih yang paling saya tidak suka. 

Ya, saya paling tidak suka tangan saya beraroma bumbu masak, tapi saya "memaafkan" tangan Mami yang berbau bawang  bahkan kadang bernoda kuning dari kunyit; karena tangan itulah tangan yang membelai saya, tangan yang melindungi saya, tangan yang memberikan kehangatan bagi saya, tangan yang menghasilkan makanan enak-enak hingga saya berbadan semok seperti Obelix :p

Beranjak gadis, Mami mulai sering mengajak setengah memaksa saya ke dapur, tapi masih sebatas membantu menyiangi sayuran, bukan untuk mengolah daging, atau ikan dan sebagainya karena saya geli memegang bahan-bahan tersebut. Kesibukan bekerja lima hari dalam seminggu membuat saya sering menghabiskan akhir pekan bersama teman-teman dengan alasan refreshing, bukannya bersama keluarga, bukan mencuri ilmu masak-nya Mami. 

Hingga saya menikah dan akhirnya hidup terpisah dari orangtua. Sebelum menikah, saya bilang ke calon suami saya, bahwa saya tidak bisa memasak sama sekali, termasuk memasak nasi yang masih cukup menimbulkan trauma. Tapi, si Abenk ini santai saja dan memberi solusi rumah tangga kami akan berlangganan katering atau membeli makanan jadi dari warung atau rumah makan. Saya sih hore-hore saja, sampai akhirnya menjalani dua minggu mencicipi semua makanan yang dijual di kota kecil bernama Sorowako, Sulawesi Selatan. Lidah saya mulai rindu masakan rumah, dan akhirnya saya menelpon Mami minta resep masakan. Setiap hari saya mencatat sekitar 3 resep, mulai dari bahan, bumbu, cara  pengolahan, cara memasak, hingga cara menghidangkan karena saya benar-benar buta. 

Mami begitu sabar menanggapi pertanyaan saya yang tidak tahu beda antara kemiri dan ketumbar, lengkuas dan laos (yang ternyata sama saja). Puji Tuhan, akhirnya saya mulai kenal berbagai bahan masakan dan menghidangkan masakan rumah untuk suami, termasuk hidangan daging putih, daging merah hingga hasil laut. Namun, ada juga kejadian-kejadian bodoh yang kalau diingat-ingat ternyata lucu bin mengenaskan.

Pertama kali memasak tumis kangkung, saya menyiangi seikat kangkung yang dibeli di pasar. Saya tanya suami, "Mau masak kangkungnya banyak atau dikit? Pertama kali lho, jadi nggak jelas juga hasilnya.". Dia jawab, secukupnya saja, mungkin cemas juga dia. Saya angsurkan wadah yang penuh berisi kangkung yang sudah disiangi, dia bilang itu cukup. Saya pun tinggal menyiapkan bumbu bawang putih, irisan cabe, garam dan sedikit saus tiram. Saat memasak, saya menyaksikan, helai-helai kangkung yang cukup banyak itu, layu karena proses pematangan dan saat dihidangkan hanya menjadi satu mangkuk kecil saja. Wajah saya muram karena saya membayangkan kangkung satu wadah itu jadinya satu piring seperti di kedai seafood langgangan, yang seabreg-abreg dan biasa disantap 4 orang. Ternyata oh ternyata, saya baru tahu kalau kangkung itu singsut setelah dimasak. 

Memasak memang kegiatan yang cukup menyita waktu, namun setiap hari ada hal baru yang saya pelajari. Lewat Mami maupun melalui dunia maya, saya bisa menambah wawasan dan ketrampilan memasak saya. Kegiatan memasak kadang menjadi terapi buat saya, terlebih saat Noelle, putri saya (mau) tidur siang, karena saat itulah saya punya ME TIME walaupun hanya dalam kepala saya saja. Sekarang saya mulai menikmati kegiatan memasak, tapi lebih asik lagi kegiatan menonton orang lain memasak, betul? Puji Tuhan suami dan anak saya doyan masakan saya, saya jadi semangat untuk tetap memasak. Melihat orang-orang tersayang mau makan masakan yang susah payah disiapkan, syukur-syukur doyan, menjadi kepuasan tersendiri bagi si tukang masak. Saya jadi ingat Mami, yang sempat ngambek nggak masak karena anak-anak nggak ada yang sempat makan di rumah karena tuntutan pekerjaan.

Saat ini Mami, si Ratu Dapur sudah nggak pernah menginjak dapur lagi. Mami terserang stroke pada Februari 2008, kondisi kesehatannya pun makin menurun. Operasi jantung karena penyumbatan pembuluh darah sudah dijalaninya, namun berbagai obat-obatan yang selama ini ditenggaknya mulai membuat ginjalnya kepayahan dan Mami diwajibkan untuk cuci darah dua kali dalam sepekan. Saya cemas bukan main mendengar hal tersebut, pikiran saya sudah ke arah Gagal Ginjal, namun saya mendapat penjelasan bahwa cuci darah dengan frekuensi tersebut diharapkan membuat kadar ureum dan kreatinin-nya bisa mendekati ideal lagi. Tetap semangat ya, Mami, kami selalu doakan kesembuhan Mami dari sini.

Hari Minggu tanggal 26 Juni kemarin, Mami dan Papi berulang tahun (ke 58 dan 62), kami bertiga (saya, Abenk dan si Nonik) hanya bisa menyampaikan ucapan selamat, doa kesembuhan dan doa keselamatan melalui sambungan telepon PER-JKT.

Dan malam ini, aroma Sup Brenebon (resep Mami tentunya) membuat saya kangen sekangen-kangennya sama Mami. Please Mami, Be strong, be faithfull, and get well soon so you can come and visit us like you promised us! 

Doa saya malam ini cukup singkat, tapi seperti biasa, berserah kepada-Nya selalu membuat saya menangis karena ketakberdayaan saya sebagai manusia. Semoga Tuhan mengabulkan doa saya :) 

Bapa di Surga, kami memilih untuk percaya pada-Mu dengan segenap hati kami. Kami tahu bahwa tidak ada yang mustahil bagi Engkau. Kami memberikan segala pujian, hormat, kasih dan hati kami selamanya untuk-Mu, Bapa. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa dan mengucap syukur dan dengan setiap bilur-bilur darah-Nya kami percayakan keselamatan kami. 

Bapa, kembali kami memohon kepadaMu, berbelas kasihlah kepada Mami, sentuhlah dia, dan sembuhkan dari penyakitnya, Bapa. Karena Kau Allah kekuatan kami, penyembuh kami, dan satu-satunya harapan kami untuk menyembuhkan Mami, Bapa. Jamah dan sembuhkan Mami dari ujung rambut hingga kakinya, buang segala yang bukan dari Engkau dan gantikan dengan segala kesembuhan-Mu Bapa. Kiranya Engkau mengikat dan dan patahkan segala kuasa sakit, kuasa apapun yang turut campur yang membuat Mami sakit.

Bapa, kirimkan Roh Kudus-Mu untuk menguatkan, menenangkan dan menghibur Mami dan kami seluarga, dan jangan pernah biarkan masalah, musuh dan penyakit ini menang lebih jauh lagi, Bapa. Jadilah pahlawan dan tolonglah keluarga kami, Bapa. Kami serahkan kesembuhan Mami dan kesehatan orangtua kami di dalam tangan dan kasih-Mu, Bapa.

Ampuni kami, Bapa akan setiap kesalahan kami dan ajarkan kami untuk memaafkan orang-orang yang melawan dan melukai kami sekalipun. Terima kasih Bapa, Engkau sudah mendengar dan menjawab doa-doa kami dan selalu ada bahkan di saat tersulit dan terendah sekalipun. Tolong kami untuk berdiri teguh dalam iman dan buat kami terus dekat pada-Mu sepanjang hidup kami.

Dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus.. Amin.

Perth, 28 June 2011
01.13 am 

No comments: